I was born in Jumat Kliwon

2014-02-26 07Malam jum’at kliwon, mungkin terdengar angker dengan cerita-cerita mistis di dalamnya. Namun di malam yang indah dengan kerlip gemintang juga senyum rembulan itu mereka menyambut kelahiran seorang bayi. Di sebuah Rumah sakit di kotaku, untuk kali pertama Ibu mendengar jerit tangis putrinya yang di beri nama Sella Rizqi Amalia. Ya, itulah final nama panjangku yang sebelumnya telah diperdebatkan Ayah dan Ibu karena nama yang di berikan ayah terlalu panjang bagi Ibu yang sejatinya hanya menginginkan nama yang cukup singkat, Shella Rizqia yang di ambil dari bahasa arab dengan arti riski yang mengalir. Nama yang cukup indah bagiku walau tak sedikit ku jumpai nama ini dimana-mana.

Aku terlahir dari seorang lelaki yang ulet dalam segala urusan yang di lakoni. Beliau 300685_260055197348641_735060_nayahku Muhammad Imron putra ke dua dari sembilan bersaudara keluarga besar almarhum Mbah Sayuti. Ayah yang tampan bagi anak-anaknya yang cantik, aku sangat mengaguminya meskipun kagum semu dalam hati karena aku tak bisa menjangkau hubungan sedekat adikku dengannya. Tak jarang aku obrak-abrik lemari buku, melihat satu persatu berkas-berkas, sertifikat, surat-surat dari teman-temannya, foto-foto masa lalu, juga buku diary yang usang oleh coretan indah di masa remajanya yang selalu membuat aku penasaran akan hidupnya jauh sebelum aku ada.

 

mmexport1376008042318-1Dan tulang rusuknya, Ibu yang sangat sosialis, idealis, dinamis, humoris dan agamis bernama Eni Kusniwati. Ibu yang tak pernah sekalipun berniat melalaikan ibadahnya, tanggung jawabnya juga shodaqohnya. Meskipun sesekali aku kesal karena Ibu terlalu fokus dalam urusannya, tapi kesalku tak akan bisa menutupi betapa besar rasa cintaku padanya yang selalu mengajariku segala hal walau terpisah oleh jarak selama tujuh tahun terakhir ini.

Aku terlahir dari keluarga sederhana ketika Ayah dan Ibu belum mempunyai rumah dengan sertifikat rumah miliknya sendiri. Terhitung dua kali ngontrak rumah sederhana, kontrakan pertama di tetangga desa dan kedua berada di desaku sendiri dengan rumah milik Pak De. Lambat laun dengan tabungan cukup untuk membangun sebuah rumah sederhana, Ayah mempekerjakan tukang untuk membangun rumah yang kelak akan menjadi hunianku ketika aku memasuki TK di tahun kedua. Karena pada zaman kecilku dulu belum ada PAUD, aku langsung di sekolahkan di TK. Tunas Harapan, TK bergengsi di kecamatan yang jauhnya melebihi TK yang ada di desaku. Dulu aku dikenal dengan sikapku yang pendiam, karena setiap hari aku di tuntut untuk mandiri dengan melakukan segala macam urusanku sendiri. Ayahku sibuk dengan pekerjaannya juga Ibu sibuk dengan urusannya sendiri, maka kulakukanlah apapun yang di instruksikan mereka tanpa bualan sedikitpun. Termasuk ketika aku di titipkan kepada Ibu dari teman-temanku seperti barang titipan, pun ketika aku merasa sendiri di tengah keramaian sekolah baruku waktu teman-teman dapat merasakan hangat pelukan Ibu dan bermanja-manja ria, semua ku lakukan sendiri dengan uang jajan yang cukup untuk membeli apapun yang aku mau di masa itu. Mungkin dari situlah aku dikenal pendiam, karena kupikir tak ada yang bisa kulakukan ketika teman-temanku berbual pada Ibu mereka masing-masing, aku hanya bisa diam. Namun tak selalu aku dititipkan pada mereka, tak jarang Ayah mengantar dan menjemputku jika jam kerjanya longgar, atau berangkat bersama Abi (baca: Pak De) karena sekolahku selalu di lewati oleh Vespanya menuju sekolah dimana ia bekerja sebagai Kepala Sekolah.

Masa TK yang menyenangkan walaupun aku tak bisa berekspresi menjadi diriku yang periang. Tibalah saat aku harus menginjakkan di pijakan pendidikan selanjutnya, yaitu SD. Aku di sekolahkan di SDN Pandanrejo 2 atas kemauanku karena teman-teman semasa SD ku banyak yang bersekolah di sana. Lagi- lagi pilihanku adalah sekolah yang jaraknya lebih jauh dari jangkauan kediamanku padahal ada sekolah yang lebih dekat jaraknya.

Aku menikmatinya, masa kanak-kanakku yang menyenangkan. Aku bisa menjadi diriku, aku yang tak pernah mau di jajah kaum adam ketika mereka nakal atau sekedar menggoda. Tak pernah aku diam ketika mereka menyakitiku, akan ku kejar hingga aku dapat membalasnya. Takkan ku biarkan mereka menang atas kenakalannya, pun ketika mereka mencoba membuka seragam rok merah yang waktu itu hanya seukuran dengkulku. Dengan tak-tikku, ku buat mereka agar tak lagi mencoba-coba mengangkat rokku dengan memakai celana shoot, kapoklah mereka dan tak akan lagi- mencobanya karena aku memakai celana shootku selalu. Ya, itulah mereka yang nakalnya melebihi batas umum nakal anak SD. Pernah juga aku wadul pada Ayah karena satu teman sekelasku suka menghadangku ketika pulang sekolah. Aku jadi ingat mereka; Mas Septa, Arif, Yudha, Lugas, Frengky, Frisco, Egi, Lucky, Slamet, Tofa, Tony, Yohan, Arka, Fandy, Choliq, Agung, Sandy, Windy, Selly, Yovi, Puput, Keke, Yulis, Niken, Ela, Mayke, Nisa, Lea, Leny, Vina, Intan, Dyah dan masih banyak lagi. Aku juga punya gank yang kita sebut dengan F4 yaitu Aku, Windy, Selly dan Yovy kita adalah F4 di masa itu.

Mungkin aku sedikit tomboy dengan semua kelakuan berontakku pada kaum adam, tapi tak hanya itu, aku suka bertualang ke sawah, bermain bersama teman lain desa sampai bertamasya ke tempat wisatapun aku berani hanya bersama seorang teman. Mungkin semenjak kecil aku mempunyai hobby Travelling. Masih ingat jelas di memoriku ketika bocah SD sepertiku sudah berani menaiki angkutan umum dan pergi berwisata tanpa bimbingan orang tua. Argo Wisata, itulah tempatku biasa berenang gaya botol semasa SD. Dengan bekal hanya Rp 5000,- aku nekat untuk mencari kepuasan hati. Dan yang tak akan pernah kulupakan ialah ketika uangku kurang karena ketidaktahuanku akan administrasi pembayaran loket yang berbeda ketika weekend. Tapi untunglah, ada Mbak cantik yang mau menambahkan uang kekuranganku untuk membayarnya. Itu adalah pengalaman yang takkan pernah terlupakan.

Semasa SD tak pernah sekalipun aku mendapatkan peringkat 1 di kelas, hanya ada kenaikan dan penurunan peringkat dari peringkat 10, 4, 3, 2, 2, 3 begitu sampai aku menempuh ujian akhir. Mungkin memang bukan rezekiku, walaupun aku selalu di bangunkan Ibu sebelum subuh untuk belajar,tetap saja hasilnya tak memuaskan. Mungkin masih banyak rasa malas untuk benar-benar memasukkan materi dalam ingatanku, tapi tak apalah. Hingga aku menjadi ketua kelompok di kelas karena menyandang peringkat dua. Venus, itulah nama kelompokku karena Venus adalah orbit kedua setelah Mercurius.

Ahirnya aku melalui ujian dengan mulus dan lulus SD dengan NIM yang bisa membawaku ke SMPN favorit di Kota Batu. Namun aku tak berniat untuk masuk dan mendaftar di sekolah favorit tersebut karena aku berencana untuk bernaung di sebuah Pondok Pesantren. Sudah ada tiga Pondok Pesantren di Malang yang telah ku datangi untuk selanjutnya aku bisa menyeleksi manakah Pesantren yang terbaik untukku. Namun takdir berkehendak lain, Ayah menginstruksi Ibu agar aku di Pesantrenkan di Brebes ketika Ayah sudah berpindah kerja di sana.

309032_261052853915542_7211771_nJadilah aku santri Pondok Pesantren Al Hikmah 2 juga siswi SMP Al Hikmah 2 yang masih sangat polos. Semua hal adalah baru bagiku, dari segalanya yang tak bisa ku lakukan tanpa Ibu akupun bisa melaluinya. Makan sendiri, mencuci baju sendiri, merawat segala yang aku punya pun sendiri. Sesekali aku menangis karena merindukan kebahagiaan sebelum aku berada di penjara suci ini. Mandi ngantri, makan ngantri dan segala macam cobaan-cobaan yang kadang membuatku ingin cepat-cepat lulus. Dari itu semua, aku menjadi tau sesuatu yang harus aku lakukan untuk mengurangi beban-beban antri tersebut. Aku sempat menyandang predikat santri yang bangun lebih awal dari teman-teman lain. Ya, itulah pengalaman yang membuatku kapok untuk bangun telat. Alhasil aku bisa mandi sepuasnya dan mendapat waktu yang panjang untuk qiyamulail. Aku cepat berbaur dengan teman-teman sekamarku. Aku tinggal di kamar juga komplek Ummu Aiman, kamar yang menorehkan sejuta kenangan yang tak akan pernah terlupakan meski sekarang sudah terbangun menjadi bangunan Komplek Ummu Aiman baru. Al Umam, itulah singkatan umum bagi kamar tercintaku ini. Tak salah jika pengurus Pondok berniat merenovasinya hingga menjadi bangun baru seperti sekarang karena bangunan Al Umam dulu adalah bangunan tua dengan banyak Jin yang menghuninya.

Sejak kelas VII aku sudah di tunjuk untuk menjadi anggota OSIS, aku di tunjuk sebagai anggota OSIS upacara. Mungkin karena postur tubuhku yang bisa di 302060_259125050774989_2334538_nkatakan lumayan di kalangan anak SMP pada masa itu. Aku berada di kelas VII C, lagi-lagi aku mendapatkan peringkat 3 di kelas dan di hadiahi sarung dari Ayah, begitulah prestasiku yang tak menentu. Kadang naik tapi tak jarang juga menurun drastis seperti tak ada gairah untuk belajar. Menuju kelas VIII aku di tunjuk untuk berorasi sebagai kandidat calon ketua OSIS SMP periode 2008/2009, sungguh aku tak bisa berbuat apa-apa karena tak pernah sedikitpun terbesit keinginanku untuk menjadi ketua OSIS. Setelah semua tetek bengek pemilihan Ketos, aku terpilih menjadi sekertaris putri. Patut di syukuri, dari sinilah aku maju dalam seminar atau workshop kecil tentang kepenulisan sebagai perwakilan OSIS SMP.

Aku bukan murid ataupun santri teladan di masa itu karena labilitas yang ada dalam diriku. Menginjak kelas ahir setelah semua beban organisasi telah usai, aku dan komplotanku selalu berhasil membuat para pengurus pondok geram melihat tingkah kami. Sering bolos ngaji, terlambat ngaji, keluar masuk pondok tanpa izin resmi, dan beberapa kejahatan kecil yang wajar di lakukan oleh santri SMP yang sangat labil karena terkurung di penjara suci. Tak jarang aku dan teman-teman kamarku di sebut mavia Pondok Pesantren oleh pengurus killer putri. Di sekolahpun begitu, aku sering terlambat karena mempertaruhkan mandi pagi sebelum sekolah. Alhasil aku dan teman-teman selalu berlari-lari agar tetap bisa masuk dan mengikuti pelajaran seperti yang lain sebelum jam istirahat tiba. Karena gerbang di sekolahku ada tiga, jika satu telah tertutup maka masih ada gerbang lain yang terbuka. Yang artinya aku dan teman-temanku harus memutari gedung agar sampai pada gerbang berikutnya. Kadang kita beruntung masih bisa tetap masuk dan dipersilahkan oleh sang Guru, atau mungkin mendapat hukuman atas keterlambatan kami, namun tak jarang juga di usir begitu saja karena frekwensi terlambat kami sudah melebihi batas rata-rata. Di balik itu semua aku dan teman-temanku juga masih mempunyai nilai plus dalam bidang yang di gelutinya masing-masing.

61857_152422931445202_6807329_n Masa SMP usai, Ayah menginginkan aku untuk tetap berada di Pondok Pesantren Al Hikmah 2 dan melanjutkan jenjang SLTA ku di sini. Sebenarnya aku tolak mentah-mentah permintaannya karena aku sudah berencana untuk melanjutkan study SMA ku di sebuah Pondok Pesantren di Kediri. Apa daya, karena aku adalah anak yang belum bisa memberikan apa-apa dan masih bergantung padanya, aku menerima permintaan Ayah untuk melanjutkan studyku di Desa santri ini untuk menjadi lebih baik. Itulah tekad besarku karena kebobrokan yang telah terjadidi masa-masa bermain di SMP lalu. Kuluruskan niat untuk masuk MAK, jurusan yang di agung-agungkan di sekolahku. Madrasah Aliyah Keagamaan, jurusan yang selalu diidam-idamkan calon siswa yang akan mendaftar di Malhikdua School, tak banyak yang bisa melalui serangkaian tes yang menyeramkan sebelum memasuki ranahnya. Untuk kali pertama aku berniat untuk tinggal dalam jurusan yang angker itu, tapi karena keberuntungan sedang berpihak padaku maka aku tidak diizinkan untuk bertengger didalamnya. Tak ada namaku dalam daftar seleksi masuk jurusan keagamaan dalam kertas yang tertempel di depan kamar MAK, aku tidak lolos. Lesu, letih, kecewa, dan segalanya sudah tercampur dalam badanku, ketika aku berniat masuk jurusan IPS saja ternyata lagi- lagi takdir berkehendak lain. Aku masih ingat betul ketika teman-temanku berjuang untuk mengingat kembali materi-materi SMP untuk persiapan tes masuk Jurusan IPA dan aku hanya memandang hampa karena sama sekali aku tak tertarik untuk masuk dalam jurusan tersebut. Ketika hari tes masuk jurusan IPA telah tiba, akupun hanya ikut menemani teman-teman untuk mengerjakan. Aku isi jawaban dari soal-soal rumit itu semampuku tanpa ragu karena aku tak ingin memaksakan untuk masuk jurusan yang satu ini. Ketika pengumuman terpampangpun aku tak berselera untuk melihatnya karena aku tau jika tak akan ada namaku di dalamnya. Ternyata aku salah, namaku ada dalam deretan siswi yang masuk dalam jurusan IPA reguler..! Oh My God, apakah ini? Dengan hati bimbang, sesegera mungkin aku bertanya pada Ayah yang kala itu sudah merelakan MAK dan merestuiku untuk masuk jurusan IPS.

Adalah aku dalam kelas XI IPA 1 yang pada waktu itu diketuai oleh diriku sendiri karena ditunjuk oleh seorang Guru yang lumayan kece pada jumpa pertama, Pak Agus. Karena Malhikdua School menerapkan pembelajaran terpadu alias sekolah sambil kursus dan kursus sambil sekolah, alhamdulillah aku lolos dalam seleksi masuk spesifikasi bahasa inggris. Memasuki masa SMA, semangat berorganisasiku memuncak karena aku tak mau hanya diam mengingat masa lalu juga kesedihan yang mengharuskan aku kembali di sini. Aku ikuti beberapa seleksi masuk organisasi di sekolahku, alhasil masuklah aku dalam keanggotaan M2Net, SAKURA, GALAXY dan organisasi daerah yang ada di dalam Pondok, ITMAMMUSYARQI.

Beberapa temanku yang sudah masuk di kelasku memutuskan untuk langsung turun ke IPS karena ada Kaka’ kelasku yang mengatakan bahwa tak Cuma kelas Emercy yang di turunkan ke reguler, namun kelas regulerpun bisa diturunkan ke dalam jurusan IPS jika tak menuai hasil yang lebih baik dari sebelumnya. Entahlah, aku juga sempat berfikir ingin mengakhiri menjadi siswi IPA dan berpindah ke IPS, namun tak lazimlah bagiku sebelum mencoba. Di tahun pertama aku masih beruntung karena bisa mendapatkan peringkat sepuluh besar dalam kelas. Lanjut ke tahun berikutnya aku mulai lalai dalam belajar dan menjaga kesehatanku karena terlalu asyik dalam organisasi. Aku menikmati tugasku sehari-hari sebagai wartawan cilik, paskibra, juga tetek bengek keperluan kelas yang masih membutuhkan campur tanganku dalam melancarkan lomba-lomba yang di adakan oleh sekolah.

Badanku merespon ketidaksanggupannya untuk memikul segala macam urusan organisasi dengan jadwal latihan paskibra setiap sore dan pola makan yang tidak teratur juga dengan makan makanan instan yang kurang sehat untuk dimakan ketika aktifitas tertentu. Hampir seminggu sekali aku mengunjungi puskesmas di sana hingga dokterpun telah mengenaliku. Satu hal yang membuat aku tak malas untuk berobat adalah melihat dokter terkece di sana.

Lambat laun aku tergolek lemah tak berdaya karena infeksi usus. Mengerikan memang, tidur tak tenang seperti di ambang kematian, tak nafsu makan, bahkan berdiripun tak sanggup jika kulakukan sendiri. Aku diizinkan untuk berobat di rumah. Masih kuingat ketika Ayah membopong badanku dari mobil ke kamar, menyuapiku makan, menemani aku meminum obat, memberikan apapun yang ku mau, hingga memanasi air untukku mandi. Izinkan aku untuk meminta maaf pada Ayah karena sebenarnya beberapa obat yang telah habis oleh penglihatannya itu terbuang sia-sia olehku. Frekuensi sakitku memang jarang sekali ketika tinggal di Pondok Pesantren, dulu aku sempat gemar meminum obat karena sekali Ayah tau aku sedang sakit maka akan di bawanya aku untuk berobat. Dan sekarang, tak lagi-lagi aku ingin meminum obat pahit itu. Tak akan lagi-lagi ku ijinkan barang itu memberi rasa yang sangat mengerikan itu di mulutku.

Karena ketidakprofesionalanku itulah cobaan silih berganti, banyak materi yang kutinggalkan selama aku mendekam dalam perawatan lalu. Nilaiku menurun drastis, kadang aku sempat bingung dengan nilai-nilaiku yang tak berarti lagi untukku. Apa yang telah kulakukan selama ini hingga membuat nilaiku seperti tak ada harganya begitu?. Sudahlah, itu semua menjadi pelajaran yang sangat berharga bagiku.

Hingga aku telah berada di kelas XII IPA 1, beberapa mata pelajaran yang telah tertinggal dan terus bersangkutan dengan pelajaran selanjutnyalah yang susah aku jangkau. Aku mulai susah menerima pelajaran ahirku, namun aku terus mencoba dan mencobanya. Hingga aku lulus dengan nilai yang cukup bagiku. Tak seindah milik teman-teman lain namun bisa membuat Ayah menitikkan air mata, memeluk dan mengelus kepalaku di hari dimana pengumuman kelulusan itu berlangsung.

Tibalah kembali kebimbangan untuk melanjutkan studyku ke perguruan tinggi, untuk kali ini aku dibebaskan memilih jurusan dan dimana aku ingin kuliah. Beberapa Universitas telah aku jejali namun karena mungkin bukan keberuntunganku, I failled. Di kompetisi tes masuk perguruan tinggiku yang mendekati hari lebaran, aku di terima di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Aku telah mempersiapkannya, ku kunjungi juga beberapa Pondok Pesantren untuk tinggal selama aku menjadi mahasiswi di Jogja nanti. Lagi-lagi takdir berkata lain, karena tes terakhirku ini tanpa restu Ayah, beliau memberi instruksi lagi agar aku tak mengambilnya dan kembali mendaftar di sebuah Universitas swasta di Tegal. Sempat ada konflik antara aku dan Ayah, watak keras Ayah yang menurun kepadaku telah bertabrakan ketika itu. Ayah tak mau mengubah instruksinya karena alasan yang membuatku skak, aku traveller yang suka kesana-kemari jalan-jalan dan Kota yang ku tuju untuk menimba ilmu adalah Kota dimana orang-orang bersenang-senang di dalamnya. Kisruh, karena akupun tetap keras kepala tak mau menuruti kemauan Ayah sampai aku memutuskan ingin kerja saja. Setelah aku memutuskan bahwa aku mogok kuliahpun Ayah tak mengubah keputusannya, Oh My…. Karang saja bisa hancur, kenapa keputusan Ayah tidak?. Aku dan Ayah seakan tak mau bicara satu sama lain, selalu pesan-pesan dan pesan yang ku terima lewat Ibu dari Ayah. Benar-benar kalut sampai aku mencoba memahami dan mengerti apa yang Ayah inginkan. Dengan hati yang setengah-setengah ku coba melangkah untuk menuruti semua keinginan Ayah, pasti kelak ada hasilnya hingga sekarang aku telah nyaman berada di Universitas Pancasakti Tegal dengan jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.

Biografi ini di tulis untuk berpartisipasi dalam Penggalangan Dana M2net Melalui Kontes Biografi

Facebook Comments

Leave a Reply

Leave a Response