girl-791177_1920

iiwcDimulai dengan teks pesan yang masuk dalam inbox dengan nomor baru di hapeku yang berisi “ Shella, weekend ini ICT mau ada kegiatan sosial bagiin masker ke Guci. Kamu ikut yaa.. “. Karena ICT adalah cabang IIWC yang berada di Tegal, aku pun langsung me-reject permintaan pengirim pesan tersebut, Mas Dhika. Satu alasan yang kongkret karena aku bukan member IIWC. Setelah aku reject permintaannya, ternyata alasanku tak urung membuatnya jera agar aku mengikuti kegiatan ini. Akhirnya dengan pesan teksnya yang terlihat memaksa dan dengan sederet pertanyaan-pertanyaanku tentang acara itu, akupun menarik ucapanku yang lalu. I’ll be illegal volunteer of IIWC.

Jadi, ini adalah acara sosial yang berlatar belakang sebuah organisasi Internasional Indonesia yang berpusat di Semarang, Indonesia International Work Camp. IIWC mempunyai cabang tertentu di setiap kota yang ada di Indonesia. Untuk region Tegal, cabang ini bernama ICT yang kebetulan kebanyakan membernya adalah mahasiswa kampusku, Universitas Pancasakti. Dan karena banyak dari member ICT adalah mahasiswa kampusku, maka yang sering bergerak dalam bidang social ini juga mereka. Beberapa lama ini terdengar kabar bahwa Gunung Slamet dalam keadaan waspada dan sedikit mengeluarkan abu vulkanik, mendengar kabar itu mereka langsung bergerak mengumpulkan dana untuk pembagian masker di daerah Guci dan sekitarnya.

Ahirnya weekend tiba,

Aku adalah satu-satunya mahasiswi lokal yang masih ilegal dalam komunitas ini, karena ada enam mahasiswa lokal yang sudah resmi menjadi member IIWC yaitu Mas El, Dhika, Rinif, Hiday, Rizal, dan Fajar, semua adalah mahasiswa seniorku dan dua relawan IIWC yaitu Julia yang berasal dari Yordania dan Goda dari Tunisia. Awalnya aku pikir semua keperluan umum yang akan di butuhkan di Guci nanti sudah siap sedia, ternyata aku salah. Bahan-bahan untuk kita makan di villa nanti sama sekali belum tersedia. Dengan sedikit muka masam gegara ketidaktahuanku bahwa aku adalah satu-satunya kaum hawa dari kampus dan yang seharusnya jeli mengurusi dapur untuk mereka, akulah yang harus membeli bahan-bahan makanan untuk dinner di villa nanti. Pergilah aku ke pasar ditemani oleh Mas Rinif, betapa malunya aku karena tak mahir dalam semua hal ini.

Setelah sekitar dua jam kita melalui perjalanan yang ekstrim dengan lika-liku, naik-turun kaki gunung juga bonus hujan yang tak terduga menuju sebuah villa di Objek Wisata Guci, sekitar pukul 17.00 kita sampai di villa tujuan. Satu jam beristirahat, mulailah tangan-tangan yang sama sekali tak mahir berurusan dapur ini beraksi. Jujur saja, aku tak pernah memasak sendiri tanpa bantuan orang yang mahir dalam urusan masak memasak. Untuk memperkirakan takaran-takaran bumbu masakpun aku harus bolak-balik menanyakan pada Ibu ketika aku membantunya. Dan inilah saatnya, Mas Rinif bertugas untuk menanak nasi tanpa menggunakan Rice-cooker dengan takaran yang tak jelas dan terlalu sedikit untuk dinner sembilan orang yang sedang kelaparan.Ya, menurutku begitu, tapi dia tak mengindahkan omonganku, yasudahlah. Mas Rizal meng-krekep ayam untuk di bakar nanti, aku dan Julia sibuk mempersiapkan bumbu untuk Ayam bakarnya, memotong bawang merah, cabai dan juga tomat. Mas El dan kawan-kawan sibuk berkaroke ria di ruang tengah. Belum seperempat kupotong namun mataku sudah berkaca-kaca, belum lagi tak ada tatakan untuk memotong bahan-bahan yang membuat mata dan tanganku panas ini. Sedikit problem dengan Mas Rinif karena nasi yang di masaknya hampir jadi bubur, oh My God itulah pengalaman yang takkan terlupakan. Setelah semua usai, Mas Dhikalah yang bertugas untuk membakar ayam-ayam yang telah terpotong dan tertusuk-tusuk itu. Mungkin karena terlalu lapar, sebentar di bakar langsung di angkat saja olehnya. Alhasil dinner kita di malam minggu spesial ini adalah ayam bakar setengah matang dengan porsi diet karena kekurangan nasi.

Usai makan malam kita melanjutkan dengan bermain game Uno, karaoke dan tebak-tebakan pantomim. Asyik juga bermain bersama Mbak-mbak Bule itu, setiap bicara kita wajib menggunakan bahasa internasional. Sesekali Mas Dhika dan kawan-kawan usil menyuruh mereka untuk menirukan kata-kata saru populer di Indonesia Malam ini menyenangkan, walaupun sebenarnya banyak kesedihan yang menyelinap, seperti tak ada kaset video yang aku inginkan, kalah dalam permainan, juga mendapat kelompok game yang sangat menyedihkan a.k.a gak menang-menang. Menjelang tengah malam, kita kosongkan villa dengan menuju pemandian air panas,eh bukan dink maksudku untuk pergi ke kolam renang dengan air panas yang mengaliri. Aku putuskan untuk tidak ikut berenang pada malam ini, entahlah aku malas saja. Akhirnya aku hanya menemani mereka yang bersenang-senang dengan jebar-jebur air panas itu. Tiba-tiba tanpa aku duga Mas Dhika menarikku dan masuklah aku dalam kolam renang itu dengan kostum rok panjang, kaos panjang,kerudung juga jaket tebal dengan hape yang masih bersarang di saku. Aku berteriak sekencang-kencangnya “ Mas Dhikaaaaaaaaaaaaaaa….!!! “. Marahpun tak akan membuat badan dan bajuku kering, ahirnya aku ikut renang dengan kostum aneh ku ini. Hanya beberapa menit saja aku menikmatinya kemudian bergegaslah aku kembali ke villa dengan badan menggigil karena kedinginan di tengah malam. Setelah semua kembali ke Villa, Mas Dhika memasak mie dengan porsi besar yang lumayan nikmat untuk mengganjal perut. Dan aku hanya bisa tergeletak di sofa dengan badan yang terbungkus selimut tebal, kaum adampun melanjutkan permainan mereka, poker.

Pagi itu aku bangun lebih awal dari mereka, ku jalankan rutinitas pagiku untuk menyembah yang Esa. Mereka masih sangat lelap, aku tak bisa melanjutkan tidurku. Maka bergegaslah aku membuat kopi dan menghirup udara pagi di kaki gunung ini, sejuk. Beberapa orang yang melihatku menyapa, ada pula yang terheran-heran, mungkin pikirnya sedang apa cewek cakep sendirian tak jelas di depan villa. Aku juga berniat untuk mengeringkan hape yang tadi malam ikut nyemplung berasamaku di kolam renang. Sesekali aku aktifkan dan matikan lagi karena aku takut jika ayah menelpon atau mengirim pesan hingga aku tak membalasnya, pasti akan marah. Mungkin sekitar dua jam aku mondar-mandir mencari kesibukan sendiri sambil menunggu teman-teman lain bangun dari mimpi indah mereka. Jam 8 aku bangunkan mereka dengan suara cemprengku, bersuara semauku hingga mereka bangun. Satu persatu dari mereka bangun, juga bule cantik yang tidur di sofa, Julia.

Bubur ayam, gorengan dan lontong, itulah menu sarapan di pagi yang sejuk ini. Usai sarapan kita lanjutkan untuk jalan-jalan sekitar Guci, namun dua orang yang memutuskan untuk berdiam di Villa, Mas Rinif dan Julia si bule cantik. Aku, Goda, Mas El, Mas Dhika, Mas Hiday, Mas Rizal, Mas Fajar memutari segala penjuru yang pemandian air panas ini, dari naik bukit hingga menuju air terjun. Asyik, lelah, senang, semua bercampur menjadi satu,yang pasti ini menyenangkan dengan balutan pemandangan asri juga udara yang sejuk.

Usai mandi kita bersiap-siap untuk menjalankan misi utama kita, Pembagian Masker kepada warga sekitar. Namun sayang sekali, ketika sedang bersiap-siap akan check out dari villa ternyata hujan turun begitu derasnya, misi kita tertunda sebentar.

Ba’da dhuhur sekitar pukul 13.00 kita benar-benar meninggalkan Villa sederhana yang telah kita diami semalam untuk tujuan pertama kita mendatangi Kepala Desa Tuwel yang berada di dekat Objek Wisata Guci. Setelah bersilaturahim ke kediaman beliau, beliau menyarankan untuk membagikan langsung masker tersebut kepada masyarakat. Seperti yang di katakan Mas El, sebenarnya kita berencana membagikan masker tersebut kepada warga secara langsung, tapi karena kurang yakin maka bergegaslah menuju kediaman Bapak Kepala Desa untuk bermusyawarah dan meminta pendapat, dan itulah jawaban beliau yang sama seperti apa yang kita rencanakan sebelumnya. Kami menuju pertigaan yang ramai di lewati pengendara mobil maupun motor. Aku, Mas Rinif, Mas Dhika, dan Julia door to door membagikan masker kepada warga di setiap rumah dan Goda, Mas Hiday, Mas Rizal, Mas El juga Mas Fajar membagikannya kepada pengguna jalan raya. Banyak dari warga yang sangat antusias dan berterimakasih atas kunjungan dan bantuan alakadarnya dari kami. Setelah jumlah masker yang dibatasi untuk Desa Tuwel habis, bergegaslah kami menuju desa selanjutnya, Bojong. Di Bojong kami membagikannya bersama-sama kepada warga sekitar, ketika semua masker telah habis terbagikan, Mas El menuntun kami menuju pinggir jurang, ya pinggir jurang yang sangat indah dengan pemandangan alam sekitar nan hijau. Itulah akhir dari perjalanan indah yang melelahkan juga menyenangkan. Merekapun tak mempermasalahkan aku member atau bukan, yang penting aku juga relawan meski masih ulung untuk komunitas Indonesia International Work Camp. (18-19/05)

Berikut Dokumentasinya ;

10352693_4286879945883_393234075_n961100_4286879905882_1862435791_n10356515_4286831504672_2094582333_n10374363_4286831664676_491899413_n10385062_4286831544673_120508229_n

Facebook Comments

Tags : ICT TegalIIWC
Shella Rizqiea

The author Shella Rizqiea

Ingenue :)

Leave a Reply

8 Comments

  1. dasar relawan anak macan ilegal :p
    keren dah bwt km sm tmen2 km ampe mw ngadain acara bgtu .. ini nih baru mahasiswa indonesia, nggak cman mahasiswa yg bsanya demo doang 😀
    keyen keyyenn 😀

Leave a Response